Vaksin Palsu Masih Jauh Jumlahnya Dibandingkan Obat Palsu

Vaksin Palsu Masih Jauh Jumlahnya Dibandingkan Obat Palsu

August 2, 2016

Gerakan Moral Dokter Indonesia yang merupakan kelompok para dokter bersatu menganggap vaksin palsu yang merupakan trending news pada akhir-akhir ini, ada juga yang mengatakan hal ini seperti fenomena gunung es. Menurut Agung Sapta Adi, yang merupakan salah satu dokter Gerakan Moral Dokter Indonesia, vaksin palsu hanya bagian kecil dari pemalsuan lain yang tidak tampak.

“Obat palsu tentunya lebih besar jumlahnya dibandingkan vaksin palsu,” ucapnya di dalam Diskusi Publik “Darurat Farmasi. Melawan Pemalsuan Obat dan Vaksin” yang dilaksanakan di Restoran Piring Jahit, Plaza Festival Jaksel, Minggu 24 Juli 2016.

700

Agung mengungkapkan, produksi dan distribusi vaksin palsu telah berjalan sekitar 13 tahun yang telah menggambarkan buruknya sistem kesehatan nasional. Sistem kesehatan ini adalah bagian dari ketahanan nasional. Ia menjelaskan adanya kasus ini menggambarkan kondisi kegagalan Negara dalam melindungi rakyatnya. “Sangat buruknya proses pengawasan obat,” ucap dokter spesialis anestesi tersebut.

Tidak hanya vaksin, sebut Agung, berbagai produk obat berhabaya pun juga dijual bebas di toko online, seperti Propofol dan Trivam. Menurutnya, pemakaian obat-obatan itu mesti hati-hati di kamar operasi, seperti misalnya untuk membius pasien yang akan dioperasi.

Baca Juga  Metode Baru Gunting Molekuler Pengobatan HIV AIDS

Pada keterangan penjual online disebutkan obat ini telah membuat orang yang sulit tidur dapat langsung tidur. Sebut Agung, obat semacam ini yang dikonsumsi Michael Jackson sebelum dia meninggal. Agung menyebutkan, di samping obat keras, banyak juga obat spesifik yang dapat ditemukan di toko online. “Jika kita mengetahui obat itu berhabaya, mungkin saja kita konsumsi,” ucapnya.

Terdapat banyak website yang menjual produk kesehatan yang menunjukkan hal itu adalah bisnis yang sangat menjanjikan. “Berita mengenai vaksin menjadi heboh, namun sebenarnya banyak terjadi pemalsuan obat Yang pertama adalah adanya kebutuha akan obat. Kemudian, masyarakat memiliki pola fikir kuratif yang secara otomatis akan konsumtif. Berikut ini adalah distribusi yang terbuka. “Siapa pun diperbolehkan memasarkan, seperti apotek, toko obat, sampai toko online yang kami tidak mengetahui orangnya dan obatnya, apakah asli atau tidak asli.”

Agung mengungkapkan, disamping vaksin serta obat palsu, ada dokter palsu juga. Kata dokter menurutnya identik dengan pengobatan medis. Tapi ada orang-orang yang tidak memiliki kompetensi, kemampuan dan juga legalitas namun menggunakan obat dan melakukan tindakan medis kepada pasien. “Dia tidak mengetahui palsu missal pengobatan alternative yang memakai obat-obat palsu.

Baca Juga  25 Pasien Positif Menjadi Korban Vaksin Palsu di Rs Elisabeth
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest
Tags:

Related to: Vaksin Palsu Masih Jauh Jumlahnya Dibandingkan Obat Palsu