Bertanggung Jawab Dampak Vaksin Palsu, Kemenkes Gelar Imunisasi Dasar

August 2, 2016

Mulai Senin 18 Juli 2016 Kementerian Kesehatan akan melakukan kampanye imunisasi dasar di wilayah yang diduga menjadi salah satu tempat beredarnya Dampak vaksin palsu. Tetapi, para orangtua meminta ada kejelasan apabila vaksinasi ulang akan dilakukan. Vaksinasi ulang ini adalah pemberian imunisasi dasar yang merupakan bagian dari pertangungjawaban serta upaya penanganan dampak vaksin palsu.

vaksin palsu

vaksin palsu

“Kita akan memberikan imunisasi wajib. Imunisasi ini memang dibutuhkan (untuk mengatasi) dampak dari penggunaan vaksin palsu. Bukan vaksi ulang, tetapi ini memang imunisasi dasar,” ujar juru bicara Kementerian Kesehatan Oscar Primadi.

Imunisasi dasar akan dilakukan secara bertahap yaitu di Puskesmas Ciracas, Rumah Sakit Harapan Bunda Ciracas, Jakarta Timur, dan di Pondok Ungu, Bekasi, serta wilayah-wilayah lainnya yang layanan kesehatannya terdeteksi penyebaran vaksin palsu.

14 rumah sakit yang diduga menggunakan vaksin palsu yaitu RS Bhakti Husada (Terminal Cikarang), RS Dr. Sander (Cikarang), RS Sentral Medika (Jalan Industri Pasir Gombong), RS Karya Medika (Tambun), RS Puspa Husada, RS Sayang Bunda (Pondok Ungu Bekasi), RS Kartika Husada (Jalan MT Haryono Setu Bekasi).

Lalu RS Permata (Bekasi), RS Multazam (Bekasi), RSIA Gizar (Villa Mutiara Cikarang), RS Elisabeth (Narogong Bekasi), RS Harapan Bunda (Kramat Jati, Jakarta Timur), RS Hosana (Lippo Cikarang), dan RS Hosana (Jalan Pramuka Bekasi).

Selain itu, Polri juga sudah mengumpulkan bukti vaksin di wilayah Sumatera dan sejumlah provinsi lainnya yang diduga menggunakan vaksin palsu yaitu Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mengenai perkembangan penyelidikkan vaksin palsu di provinsi-privinsi terkait di luar DKI Jakarta dan Jawa Barat, Oscar menuturkan, bahwa mereka masih menunggu.

“Itu wewenang kepolisian, masih terus dilakukan upaya penyidikan-penyidikan, terakhir yang kami sudah sampaikan di DPR,” kata Oscar.

Sementara itu, Marius Wijayarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia menilai, bahwa kehadiran vaksin palsu untuk mengisi kekosongan.

Menurut Marius, kekosongan ini tidak terlepas dari peran Kementerian Kesehatan yang tidak tepat dalam melakukan perhitungan akan kebutuhan vaksin.

“Pertama kali itu kan vaksin kosong, lalu kebutuhan meningkat, padahal seharusnya yang merencanakan kebutuhan itu kan Dirjen Pelayanan Farmasi dan Alat Kesehatan, kira-kira apa saja kebutuhan nasional itu,” ujar Marius.

“Di Indonesia, 10 angka penyakit terbanya itu bisa dihitung apa saja, untuk pencegahannya dibutuhkan vaksinasi. Vaksinasi yang dibutuhkan dari anak baru lahir sampai orang yang sudah dewasa itu apa saja, lalu dilihat dari jumlah penduduk, usia, semua bisa dilihat dari angka di puskesmas dan rumah sakit, dengan begitu kan ketahuan,” tuturnya.

Artikel Terkait:

Tags:

Related to: Bertanggung Jawab Dampak Vaksin Palsu, Kemenkes Gelar Imunisasi Dasar